|
![]() |
|
![]() |
|
![]() |
|
Foods and Travel |
||||||||||||||
|
| Radar Online |
Senin, 06/02/2012 [10:58:22] |
||||
| Kecamatan Pancoran Mas Jadi Kantong Gizi Buruk | ||||
| [Depok] | ||||
Depok, Radar OnlineKecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat merupakan kantong balita gizi buruk di Kota Depok. Dalam setiap bulannya ada saja satu balita asal Kecamatan Pancoran Mas menderita gizi buruk atau kurang gizi. Dalam catatan kami, Kecamatan Pancoran Mas merupakan wilayah paling banyak melahirkan balita gizi buruk, terang ahli nutrisi, Puskesmas Sukmajaya, Bari Wintoro, kepada wartawan Minggu (5/2/2012). Dikatakan Bari, hal tersebut dapat dipahami karena kebanyakan warga Pancoran Mas masuk kategori berpenghasilan rendah. Perlu diingat faktor ekonomi menjadi penyumbang paling besar terjadinya gizi buruk. Orang tua yang berpenghasilan rendah tidak akan mampu memberikan si anak makanan yang sehat dan bergizi, serta bernutrisi, ujar Bari. Menurut Bari, mayoritas masyarakat Pancoran Mas belum memandang gizi buruk sebagai sebuah penyakit. Sehingga jarang masyarakat mau melakukan pemeriksaan gizi anak. Kami mengetahui ada balita mengalami gizi buruk dari ibu-ibu PKK, Posyandu. Atau saat si ibu mengambil vitamin A di Puskesmas pada bulan Februari sampai Agustus, tuturnya. Puskesmas Sukmajaya merupakan satu-satunya puskesmas krisis center yang menangani balita gizi buruk. Bagi balita yang sudah terdiagnosa gizi buruk akan dilakukan perawatan secara intensif. Biasanya kita kesulitan memberitahu ke orang tua balita kalau anaknya mengalami gizi buruk. Harus dilakukan pendekatan terlebih dahulu agar si ibu mau melakukan perawatan anaknya di puskesmas ini, ujar Bari. Dia mengungkapkan, untuk mengukur divrensiasi balita mengalami gizi buruk atau tidak, menggunakan data statistik. Angka nol menjadi titik tolaknya. Angka satu sampai min satu masuk kategori normal, enol sampai plus dua masuk kriteria gizi gemuk. Enol sampai min dua masuk gizi kurang atau gizi buruk, dan enol sampai tiga masuk kategori lebih gemuk, sedangkan enol sampai min tiga masuk kategori gizi sangat kurang. Angka-angka ini lah yang menjadi patokan kita. Kalau ada balita masuk dalam kategori tersebut maka kita langsung meminta orang tua merawat balitanya di puskesmas, ungkap Bari. Bari mengakui kalau tidak semua warga dapat menerima anaknya masuk dalam kategori gizi buruk. Makanya, ia selalu berharap pihak kecamatan dan kelurahan membantu puskesmas memberikan kesadaran akan bahaya gizi buruk bagi balita. Sayangnya tidak semua lurah dan camat proaktif untuk melaporkan rekam jejak warganya ke puskesmas. Padahal, dengan memberi laporan, puskesmas dapat melakukan pemantauan langsung ke lapangan, kilahnya. Sementara ditempat terpisah Nya Zuleha, warga Kampung Lio, Kecamatan Pancoran Mas, tidak terkejut kalau kampungnya menjadi penyumbang balita gizi buruk paling banyak se-Kota Depok. Saya mah tidak terkejut, kan warga di sini kerjanya ngemis. Kampung kita dapat julukan kampung pengemis, ungkapnya. Zuleha menegaskan, bagaimana para orang tua di Kampung Lio ini dapat memberikan gizi yang sempurna kalau orang tuanya tidak pasti mendapatkan uang. Makan sehari dua kali saja sudah senang. Apalagi dapat memberikan gizi yang lebih pada anak, tandasnya.(Maulana Said) ________________________________________ |
||||