| |
Sang Hiang, Radar Online
Mesti meniti jembatan yang rusak, siswa-siswi SD di Sang Hiang, Lebak, Banten, tetap semangat menuntut ilmu. Para siswa SD ini harus menyambung nyawa sekadar untuk meraih melewati jembatan yang tidak layak di jalani. Namun kondisi ini pun disesalkan oleh DPR.Wakil Ketua DPR Bidang Kesra, Taufik Kurniawan meminta Bupati setempat untuk mengerjakan jembatan tersebut, sehingga anak yang hendak menuntut ilmu tidak berjalan di jembatan yang rawan. Untuk pekerjaan jembatan tersebut, agar dilakukan sistim patungan terlebih dahulu,” ujar Taufik kepada wartawan..
Akhir-akhir ini, setiap pagi juga melihat ada berita anak-anak SD sangat memprihatinkan mau berangkat sekolah harus meniti jembatan gantung yang sudah putus. “Tolong Bupati tanggap dengan hal ini”, ucapnya.
Menurut Taufik, ada dana untuk program tanggap darurat, sehingga nantinya pasti akan diganti. Kondisi yang dialami para siswa SD tersebut sangat menyedihkan. Negeri kita ini seolah negeri tanpa pemimpin, ditingkat lokal tidak ada yang memimpin seperti tidak ada bupati, kepala desa. Kepada pemimpin di tingkat desa segera lakukan kerja bakti jangan biarkan anak-anak bergelantungan di tengah sungai arus deras," terangnya.
"Ini seperti kita negara belum merdeka. Kepala desa, camat segera lakukan langkah," Di Kampung Tanjung, Lebak, Banten orang dewasa, anak-anak SD dan SMP harus bertaruh nyawa untuk pergi ke sekolah mereka. Mereka harus meniti jembatan kayu yang rusak berat.
Sembari berpegangan pada tali jembatan, mereka harus ekstra hati-hati melangkah. Salah melangkah, byuur! Deras arus Sungai Ciberang, Lebak, Banten bisa merenggut hidup mereka.
Kantor berita Inggris, Reuters bahkan mempublikasikan foto-foto menyesakkan dada itu. Bahkan media Inggris lainnya, Daily Mail, menyebut kondisi itu mirip dengan salah satu adegan dalam film terkenal "Indiana Jones And The Temple Of Doom".
Sebelumnya, Reuters memberitakan seorang anak perempuan bernama Sofiah dan kawan-kawannya yang mesti bertaruh nyawa untuk mencapai sekolah mereka, SD Negeri 02 Sanghiang Tanjung.
Menurut Kepala Desa Sanghiang Tanjung Epi Sopian, banjir mengakibatkan kerusakan parah pada jembatan itu. Jembatan itu dibangun pada 2001 dan hancur saat diterjang banjir besar beberapa waktu lalu. (Ranto Manullang/Pesta Tampubolon)
|
|