| |
Jakarta, Radaronline
Demam Korea tidak henti-hentinya melanda negeri ini. Pasalnya, teknologi yang semakin canggih memberikan ruang lebih luas dalam penyebaran budaya Korea berkembang pesat dinegeri ini. Budaya Korea benar-benar dijadikan kiblat, terutama bagi kaum muda Indonesia. Gempuran budaya Korea ini meliputi sebagal aspek yang dikenal dengan 3F, yaitu fun, fashion, dan food. Seperti dikemukan oleh Woro Lintang S.Kpm, Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan bahwa gempuran budaya Korea ini meliputi sebagal aspek yang dikenal dengan 3F, yaitu fun, fashion, dan food.
Serangan pertama adalah Fun (kesenangan, seni, entertainment), budaya senang-senang ala sekuler kapitalisme disebarluaskan di segala penjuru. Pertunjukkan seni menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Budaya senang-senang ini yang kemudian menimbulkan sikap hedonistik dan konsumtif di masyarakat.
Serangan kedua yaitu Fashion (pakaian, gaya hidup), masyarakat terjebak dalam gaya hidup seperti yang dicontohkan Korea. Mengabaikan cara berpakaian dan gaya hidup yang sudah ditetapkan oleh syariat. Mereka rela memperlihatkan aurat dan membeli pakaian yang mahal hanya karena tak mau ketinggalan meniru gaya fashion ala Korea.
Dan, Serangan ketiga yaitu Food (makanan), budaya pragmatis dan serba instan yang sudah dibangun sebelumnya menyebabkan generasi muda hanya menginginkan hidup enak tanpa kerja keras. Masyarakat banyak yang terlenakan dengan sajian tayangan kuliner di media. Angan-angannya dibawa kemana mereka bisa dapatkan makanan tersebut dan siap untuk memburunya, tanpa memikirkan hal-hal lain yang lebih penting daripada itu.
Maka dari itu, Woro Lintang S.Kpm mengungkapkan apalah jadinya jika budaya tersebut berkembang dan tidak ada filter, tentu akan merusak tatanan kehidupan yang ada. Bahkan di Korea (Korea Selatan) sendiri , angka bunuh diri semakin meningkat dua kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir (BBC Indonesia). Coba bandingkan dengan bagaimana Islam dapat membangun peradaban masyarakat tanpa merusak masyarakat itu sendiri. Islam tidak menolak budaya sebuah masyarakat, namun tetap harus menyesuaikannya dengan sistem Islam. Tidak menuhankan materi. Tapi justru meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan tata kehidupan yang lurus, berimbang antara dunia dan akhirat. (Yeni)
|
|