![]() |
|
![]() |
|
![]() |
|
![]() |
|
Foods and Travel |
||||||||||||||
|
| Radar Online |
Jumat, 05/08/2011 [10:12:26] |
||||
| Sebuah Transisi di Indonesia adalah Kesempatan. | ||||
| Sri Mulyani: Korupsi Adalah Kutukan | ||||
| ditulis oleh Miko M Akbar di surabaya | ||||
Jakarta - Mantan menteri keuangan Sri Mulyani Indrawati bicara soal masa transisi setelah banyaknya pergolakan yang terjadi di sejumlah negara akhir-akhir ini. Sri Mulyani juga berbagi resep tentang masa transisi setelah bergantinya rezim di Indonesia."Transisi juga menjadi saat yang tepat untuk sebuah kesempatan besar. Pada tahun 1999, saya termasuk salah satu orang Indonesia yang menginginkan dan merayakan turunnya salah satu diktator, Soeharto dan saya bergabung dengan pemerintah baru ketika dia turun," ungkap Sri Mulyani. "Banyak pengamat memprediksi bahwa Indonesia, negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tidak akan bisa mempertahankan demokrasi dan akan beralih ke kerusuhan. Tugas-tugas yang menanti kami sangat menakutkan. Namun kami membuktikan keragu-raguan itu salah dan mempelajari beberapa pelajaran dasar," tambah Managing Director Bank Dunia itu. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah artikel yang ditulis di situs Bank Dunia dan dikutip detikFinance, Kamis (4/8/2011). Mengawali artikelnya, Sri Mulyani menyebut soal pergolakan yang banyak terjadi di negara-negara Timur Tengah. Selanjutnya, ia menyampaikan sejumlah solusi untuk mengatasi masalah transisi, dengan mengambil contoh di Indonesia juga. "Tapi mungkin hal paling penting yang kita pelajari adalah tidak ada satu ukuran yang cocok untuk seluruh solusi demokratisasi. Setiap negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara akan menghadapi tantangan yang berbeda, yang perlu untuk digarisbawahi dengan istilah-istilah mereka sendiri," urai Sri Mulyani. Meski demikian, lanjut Sri Mulyani, mereka harus membuat pemutusan hubungan yang nyata dengan masa lalu. Pemerintah baru juga harus memberikan sinyal kuat yang pada masa lalu sudah berakhir. "Perubahan harus secara formal dimanifestasikan, dengan UU baru yang secara luar dipublikasikan. Legislasi yang melibatkan masyarakat dengan kebebasan bereskspresi, pemilihan yang bebas dan independen dan kebebasan yang berhubungan menjadi hal yang penting," tegasnya. "Dan harus dijelaskan kepada publik bahwa tidak ada seorangpun yang berada di atas hukum. Sesuatu yang kurang akan merusak transisi," imbuh Sri Mulyani. Salah satu wanita paling berpengaruh di dunia ini pun menggarisbawahi masalah korupsi yang dinilainya bisa menghalangi pembangunan sehingga harus diberantas. "Korupsi adalah kutukan dari pembangunan dimanapun, jadi pemerintahan baru harus bergerak cepat memperkuat institusi dan prosedur untuk melawannya. Transparansi dan akuntabilitas adalah ide yang sangat kuat dengan dukungan hampir dari seluruh dunia, yang berarti pemimpin baru seharusnya tidak menyerah ketika perlawanannya menjadi sulit," paparnya. Menurut Sri Mulyani, organisasi masyarakat sipil, komunitas lokal dan perwakilan masyarakat miskin serta wanita memainkan peran penting dalam masalah ini sehingga mereka harus dilibatkan dalam setiap level pembuatan keputusan. Ia pun mengungkapkan pengalamannya di Indonesia yang sudah menandatangani ratusan UU dalam 18 bulan terakhir, dengan cakupan mulai dari UU kebebasan pers hingga pemilihan umum, korupsi, desentralisasi dan anti-monopoli. Sri Mulyani juga berbicara tentang masalah keamanan yang menjadi titik balik paling serius dalam proses transisi. Ia menilai sentimen nasionalisme masih kuat dan politisi serta kelompok yang berkepentingan dana mengeksploitasinya. Terkadang pasukan keamanan beralih dari rezim yang lama dan tidak ada kebebasan sistem yudisial. "Reformasi akan memerlukan waktu dan pemerintahan lama mungkin tidak bisa mengimplementasikannya," imbuh Sri Mulyani "Di Indonesia, kami menggunakan berbagai variasi inovasi untuk mengatasi masalah dilema tersebut. Contohnya, kami menunjuk hakim independen untuk mengambil alih pengadilan kebangkrutan dan korupsi karena karir hakum juga ternoda," ungkapnya. Secara luas, lanjut Sri Mulyani, para pemimpin baru harus menjamin perekonomian berjalan baik. Ia mencatat pentingnya pemulihan aktivitas ekonomi dan menciptakan lingkungan bagi para wirausahawan http://www.detiknews..com/read/2011/0...adalah-kutukan Sri Mulyani Indrawati “Saya menang… Selama saya tidak mengkhianati kebenaran; selama saya tidak mengingkari nurani saya; dan selama saya masih bisa menjaga martabat dan harga diri saya, maka di situ saya menang.” Kita bisa bayangkan seperti apa orang yang memiliki definisi “menang” semacam ini. Kemenangan yang mengandalkan kekuatan dan keutamaan karakter adalah kemenangan dalam menghadapi godaan dan cobaan di dalam dan di luar diri. Orang yang berpegang pada definisi ini bisa diramalkan memiliki karakter yang kuat dan dapat diandalkan untuk mengedepankan etika publik dan etika personal. Dan orang itu adalah Sri Mulyani Indrawati. Lahir di Bandar Lampung, Lampung, 26 Agustus 1962, Sri Mulyani tumbuh dalam keluarga nasionalis dan berpendidikan tinggi. Latar belakang keluarganya punya jejak kuat pada dirinya. Doktor ekonomi lulusan University of lllinois Urbana-Champaign ini menunjukkan kepedulian yang besar terhadap negaranya dan dikenal sebagai orang yang sangat menguasai bidang keahlian yang ditekuninya. Ia punya integritas, cerdas, dan tangkas dalam bekerja. Kompetensinya membawa ia berkiprah dalam posisi-posisi penting di pemerintahan Indonesia dan lembaga internasional. Sebelum menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia, ia menjabat Menteri Keuangan RI ini sejak 1 Juni 2010. Ia juga pernah menjabat Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu dan sebelumnya lagi ia menjabat Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dari Kabinet Indonesia Bersatu. Di luar sepak-terjangnya dalam birokrasi, Sri Mulyani bekerja sebagai dosen di Fakultas Ekonomi UI dan dikenal sebagai seorang pengamat ekonomi yang handal di Indonesia. Ia menjabat Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI). Sejak tahun 2008, ia menjabat Pelaksana Tugas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, setelah Menko Perekonomian Dr. Boediono dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia. Jabatan-jabatan itu mengindikasi kompetensinya baik sebagai ekonom maupun sebagai orang dengan kepemimpinan yang kuat. Emerging Markets pada 18 September 2006 di sela Sidang Tahunan Bank Dunia dan IMF di Singapura memilih Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan terbaik Asia untuk tahun 2006. Ia juga masuk juga dalam daftar wanita paling berpengaruh ke-23 di dunia versi majalah Forbes tahun 2008 dan wanita paling berpengaruh ke-2 di Indonesia versi majalah Globe Asia bulan Oktober 2007. Kekuatan dan keutamaan karakter tampaknya menjadi andalan Sri Mulyani. Dalam psikologi positif, kajian yang memusatkan pada ikhtiar manusia mencapai kebahagiaan, kekuatan dan keutamaan karakter merupakan daya yang menggerakkan orang untuk berbahagia sekaligus memberi kontribusi yang baik kepada masyarakatnya. Sepak-terjang Sri Mulyani membuktikan itu. Dengan kekuatan dan keutamaan karakter, kemenangan seperti yang didefinisikannya adalah buah yang niscaya. Pendidikan Sarjana Ekonomi di Universitas Indonesia Jakarta, Indonesia (1981-1986) Master of Science in Policy Economics di University of lllinois Urbana Champaign, USA (1988-1990) Ph.D in Economics di University of lllinois Urbana-Champaign, USA (1990-1992) Pengalaman Kerja Managing Director World Bank Group, Juni 2010-sekarang Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu II, 2009-2010 (Mengundurkan diri Mei 2010) Pelaksana Tugas Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu I, 2008-2009 (Merangkap Menteri Keuangan) Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu I, 2005-2009 Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas Kabinet Indonesia Bersatu I, 2004-2005 Executive Director International Monetary Fund (IMF) Southeast Asia, 2002-2004 Visiting Professor, Georgia State University USA, 2001 Ketua I Bidang Kebijakan Ekonomi Dalam dan Luar Negeri serta Kebijaksanaan Pembangunan, PP Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), 1996–2000 Kepala Program Magister Perencanaan Kebijakan Publik Universitas Indonesia, 1996-1999 Kepala LPEM-FEUI, 1998-2001 Kepala Program Magister Perencanaan Kebijakan Publik, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1996-1999 Wakil Kepala Bidang Penelitian LPEM FEUI, 1995-1998 Wakil Kepala Bidang Pendidikan dan Latihan LPEM FEUI, 1993-1995 Research Associate Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM-FEUI), 1992-1995 Anggota Kelompok Kerja – GATS Departemen Keuangan RI, 1995 Anggota Kelompak Kerja Mobilitas Penduduk Menteri Negara Kependudukan – BKKBN, 1995 Anggota Kelompok Kerja Mobilitas Penduduk, Asisten IV Menteri Negara Kependudukan, BKKBN, Mei–Desember 1995 Staf Ahli Bidang Analisis Kebijaksanaan OTO-Bappenas, 1994-1995 Asisten Profesor, University of lllinois at Urbana Champaign, USA, 1990-1992 Pengajar Program S1, S2, S3, Program Ekstension, Program Magister Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1986-sekarang Asisten Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1985-1986 Kegiatan Penelitian Research Demand for Housing, World Bank Project, 1986 Kompetisi Perbankan di Jakarta/Indonesia, BNI 1946, 1987 Study on Effects on Long-term Overseas Training on Indonesia Participant Trainees. OTO Bappenas – LPEM FEUI, 1998 Penyusunan Studi Dampak Ekonomi Sosial Kehutanan Indonesia. Departemen Kehutanan – LPEM FEUI, 1992 Survei Pemasaran Pelumas Otomotif Indonesia. Pertamina – LPEM FEUI, 1993 The Prospect of Automotive Market and Factors Affecting Consumer Behavior on Purchasing Car. PT. Toyota Astra – LPEM FEUI, 1994 Inflasi di Indonesia: Fenomena Sisi Penawaran atau Permintaan atau keduanya. Kantor Menko Ekuwasbang – Bulog – LPEM FEUI, 1994 Restrukturisasi Anggaran Daerah. Departemen Dalam Negeri – LPEM FEUI, 1995 The Evaluation of Degree and non degree training – OTO Bappenas, 1995 Fiscal Reform in Indonesia: History and Perspective, 1995 Potensi Tabungan Pelajar DKI Jakarta. Bank Indonesia – LPEM FEUI, 1995 Studi Rencana Kerja untuk Pelaksanaan Kegiatan Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional, Departemen Pariwisata, Pos & Telekomunikasi – LPEM FEUI, 1996 Interregional Input-Output (JICA Stage III), 1996 Studi Kesiapan Industri Dalam Negeri Memasuki Era Perdagangan Bebas, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, LPEM FEUI, 1997 Penyusunan Rancangan Repelita VII. Departemen Perindustrian dan Perdagangan, 1997 Indonesia Economic Outlook 1998/1999. Indonesia Forum 1998 Country Economic Review for Indonesia. Asian Development Bank, 1999 - Sumber : berbagai sumber |
||||